Kam. Sep 19th, 2019

Tanah Yang Dilupakan

Sebagian besar dari kita pulang kampung berhari raya, minimal sekali bergeser dari rumah sendiri  ke rumah orang tua di kampung yang berbeda.

Selama beberapa hari kita berada di kampung, bermacam aktivitas kita lakukan dari silaturahmi, diskusi, picnik sampai selfi-wefie. Seberapa dari kita yang sempat ziarah atau melewati tanah kuburan kampung? Sudah lupakah kita tanah masa depan itu?

Kampung itu hidup mati kita, kita terlahir dan sangat mungkin kita pulang (mati) juga dikuburkan disini. Kuburan kampung adalah taman abadi desa, tempat orang-orang terdahulu yang pulang tak pernah kembali. Kita juga akan menyusulnya.

Banyak diantara kita (mungkin) tidak pernah mengunjungi lagi atau malahan tidak tahu dimana letak tanah kuburan kampung, keluarga kita juga mungkin sangat jarang kita bawa ziarah ke maqam kakek-nenek buyut di kuburan kampung. Untuk hal ini sangat mungkin karena kita tidak pernah membuat silsilah keluarga secara lengkap dan kita tempel didinding rumah sehingga pelan-pelan kita dan anak cucu kita tidak tahu lagi. Tak pernah kita ceritkan silsilah itu pada keluarga kita apalagi membuat dan menempelnya di dinding rumah, justru kita lebih bangga menempel silsilah raja-raja atau daftar gambar kabinet menteri-menteri.

Ketika tubuh kita yang tak lagi bernyawa diturunkan ke liang lahat dan ditutup dengan tanah, orang-orang ramai pelan-pelan melupakan kita. Kita hanya diingat oleh keluarga terdekat dan mungkin penjaga kuburan yang rajin membersihkan, selebihnya hanya sekedar berkata “beliau hebat semasa hidupnya”, cuma itu saja.

Beruntunglah tatkala anak-anak meneteskan air mata di kuburan orang-orang tua ayah bunda kakek neneknya, dan terus menerus mengangkat tangan memohon ampunan dalam sujud dan do’anya. Sungguh merugi bagi yang tidak didoakan oleh anak darah daging sendiri, lebih tragis lagi dikunjungi kuburanpun tak pernah lagi.

Ketika tanah merah dan Bak Lawah (Getah Jarak) sudah diatas kita, saat itu kita baru tahu, isteri cantik suami tampan, rumah gedung tanah berhektar, pangkat tinggi jabatan besar, ternyata hanyalah sebagian dari permainan dunia.

“Dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang penuh permainan dan hiburan yang memperdayakan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *