Sel. Feb 25th, 2020

Meuriam dan Peng Griek

Kapal Perang Citadel van Antwerpen membuang sauh di lepas perairan Ulee Lheue Banda Aceh. Pagi hari tanggal 26 Maret 1873 mulai meneror daratan dengan melepas tembakan meriam berkali-kali. Sesekali terdengar balasan dari daratan, tapi nampaknya tidak ada respon berlebihan dari arah Ulee Lheue. Bisa jadi istilah “Belanda masih jauh” berasal dari sini.

Namun keesokan harinya tiba-tiba terlihat bentuk meriam-meriam kecil sepanjang garis pantai Banda Aceh. Meriam dari geladak kapal Belanda menembak lagi, meriam Aceh-pun menghilang. Beberapa saat kemudian muncul lagi dan terus menerus terjadi demikian.

Johan Harmen Rudolf Kohler diatas Kapal Induk Citadel van Antwerpen, kemudian menoropong daratan. Terlihat sangat jelas ribuan meriam berjajar disepanjang pantai. Belum pernah ditemukan meriam sepanjang ini.

Ternyata tipu Aceh (baca: strategi Aceh) disini dimulai, pria dewasa “membuka celana”, mengecat (maaf)bokong dan kemaluan dan berjongkok menghadap laut lepas. Dari kejauhan terlihat bentuk persis meriam lengkap dan siap digunakan. Sebuah bentuk meriam “paling canggih” di dunia versi Kohler.

Di sinilah awal kisah “tipu Aceh (baca: strategi Aceh)” dimulai, Belanda kehabisan daya dan kekuatan mengempur pantai dengan harapan segera dapat mendaratkan pasukannya.

Meriam sepanjang pantai terlihat siap menyambut pendaratan pasukan Belanda. Benar-benar pertahanan pantai paling “mengerikan” di dunia.

Namun para prajurit Belanda tetap bertekad memasuki daratan Aceh apapun yang terjadi. Para prajurit terus menggelorakan semangat untuk mengempur Aceh tanpa ampun.

Lagu Militair Atchinlied karya P Haagsma dinyanyikan berulang-ulang.

“Naar Atchin, de Kraton! Daar zetelt het kwaad.
Schuilt ontrouw, broeit zeeroof en smeulde verraad;
Roeit uit dat geboredsel, verneder die klant;
Met Nederlands driekleur ‘beschaving’geplant.”


Ke Aceh, Kerajaan! Disanalah bersarangnya kejahatan.
Sembunyikan kepalsuan, sarang bajak laut dan penuh pengkhianatan;
Teriakilah kekacauan itu, permalukanlah;
Dengan ’peradaban’ Belanda tiga warna.

Sementara Kohler terus merisaukan kondisi daratan, nyanyian prajurit tidak membuatnya senang. Malam itu di laut lepas Ulee Lheue Panglima ini mengerutu.

“Apa kerja mata-mata yang kita bayar mahal, katanya Aceh tidak punya pertahanan pantai,tapi meriam kok bisa sebanyak ini,” kata Kohler.

“Mungkin itu meriam bantuan Turki jenderal” jawab kopral pengawal.

Digebraknya meja, ” Tahu apa kau!, Turki tidak mampu itu, aku berpuluh tahun melihat meriam tidak ada begini bentuknya, tidak tertulis sama sekali made ini negara mana?” sergah Kohler dengan marahnya.

“Tak kusangka Aceh punya meriam sebagus ini, benar-benar amazing” katanya dalam hati sambil berdecak.

Di daratan,  beberapa hari yang lalu sudah disampaikan “warning” aba-aba pengumuman: ” Mulai uroe nyo, kaum inong mak-mak apalagi aneuk dara hanjeut toe-toe sagai ngen pante, sige treuk kamo ulangi bek sagai-sagai jingeuk u laot,” diulangi lagi pengumuman ke beberapa kawasan dekat pantai Ulee Lheue.

Terjemahan : Mulai hari ini, kaum perempuan ibu-ibu apalagi anak gadis, jangan sekali-kali mendekati pantai, diulangi sekali lagi jangan mencoba-coba melihat ke arah laut.

Empat belas hari kemudian tepatnya Pada tanggal 8 April 1873 , Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler.

Apa yang membuat Belanda  bisa memasuki pantai, dan menghadapi “meriam Aceh tanpa made in ini”?

Bukanlah Belanda namanya kalau tidak punya akal licik dan licin, dimasukinya uang logam dalam meriam dan segera ditembakkan ke semak-semak bambu dan bakau. Tiba-tiba saja meriam Aceh yang berderet menghadap laut itu menghilang. Semak-semak yang tadinya menghalangi penglihatan teropong Kohler menjadi bersih.

Strategi jitu Belanda berhasil membuat bersih pantai Banda Aceh seharian itu, pertahanan pantai telah tembus.

Berakhirlah pertahanan laut “paling kokoh dan aneh sedunia”, hanya karena “uang logam”.  Inilah kisah “tipu Aceh (baca: strategi Aceh) pertama sekali berhasil dikalahkan lawan bukan oleh logam mulia, tapi hanya oleh serpihan logam biasa (peng griek).

Duh dunia!

Catatan : Meuriam = meriam, Peng Griek = uang receh

Foto : Ilustrasi Perang Aceh menyambut Kapal Belanda (google)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *