Jum. Nov 22nd, 2019

Kisah Payung dan Menara

Payung dan Menara Mesjid Raya (gambar: google)

“BANG, untuk apa sih payung Mesjid Raya itu?” tanya Dekna pada Bangman suatu senja dalam rintik hujan didepan Mesjid Raya.

“Ya namanya aja payung ya berteduhlah, kan sedia payung sebelum hujan,” jawab Bangman secara normatif dan mengalir saja.

Dekna belum puas, jawaban Bangman renyah tapi kering bagai ikan asin Lhok Seudu.
“Tapi ini kan hujan, tak terbuka tu payung, tiang payung bikin tak elok pemandangan aja, hilang deh indahnya?” Protes Dekna bernada mengecam sekaligus prihatin kek pengamat di tivi .

“Sudahlah, terima aja deh payung, tu kerjaan pemimpin kita, apa kamu tidak pernah baca buku kalau pemimpin semua pintar dan tidak pernah salah!” Bangman mulai meninggi bagai Seulawah Agam.

Dekna terlihat memegang dada menahan sabar, berupaya melempar senyum manis bagai boh timon merah yang terbelah.
“Oke deh, terus menara depan itu apa?” Dekna mulai mengalih isu, ibarat strategi Sun-Tzu:
bila ingin menyerbu sasaran terdekat, seolah-olah sedang ingin menyerbu yang lebih jauh.

“Ya, itu menara daerah modal namanya, jadi icon, tertinggi di kota ini” lanjut Bangman agak paripurna.

“Kalau ada yang loncat dari menara itu gimana?” Dekna mulai melebar.

“Iya mati dong say! ” Bangman menjawab tegas tapi merendah bagai Seulawah Inong.
Suasana mulai terlihat tidak kondusif.

“Mana ada yang mau loncat dek, kalau ada yang nekat loncat, saya berani melamarmu 30 mayam mas murni keuchiek leumik!!!” Tiba-tiba Bang man berucap sumpah tanpa sadar, namun dalam ketidaksadaran masih sempat menyebut nama toko mas belakang Mesjid Raya.

Dekna hilang kesabaran menggebrak bagai Donald Trump, dalam kemarahan memuncak dia berucap:
“Oke deh, mana ada orang berani terjun cari mati, akal-akalanmu kan, mau bawa mahar seperangkat alat shalatkan. Kita putus!” serang Dekna bagai rudal Tomahawk tepat dijantung pertahanan Bangman.

Akhirnya Bangman jatuh tersungkur meulungkop tak berdaya. Payung dan menara telah memecah belah cintanya.😢😢😅😃😂

#cermindonya

*Gambar (cover) “Dekna” Cut Rara Zulkhaira, mahasiswi sebuah Perguruan Tinggi di Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *