Jum. Nov 22nd, 2019

Kisah Kautsar

Kisah Kautsar
“Membalikkan BEKO dengan TANGAN KIRI”

Saya mengenal dia dengan baik, baik sekali sejak dia “berpura-pura” menabrak brikade brimob pada demo menolak kedatangan habibie di jembatan Pante Pirak 1999. Skenarionya lumayan takjil, massa pendemo dibakar semangat dan tidak mundur! Saya ikut merasakan pentungan dibadan dan perihnya dimata karena gas air mata.
Pedih perjuangan abang dek!

Kausar tidak mengenal saya, tidak pernah bertemu ngopi atau diskusi. Tapi hari-hari kalau bicara pemuda, Cek Mad Mukas Abu selalu “kenalkan” dan bumbu-bumbunya banggakan dia, kadang-kadang saya cemburu berat.

“Peu ilei Kausarnya bang, pat man hayeu that jih ngen loen” demikian kata saya suatu waktu.
Maka ibarat memancing harimau dengan kambing, Cek Mad menerkam, berkisah tentang anak muda Slim ini, normatif- kolektif-koligial-batin, pokoknya deras tidak terputus, mengalir bagai air Krueng Keumala.

Kausar saya angkat topi untukmu, biarpun saya tidak pakai topi. Demikian kira-kira menyebut kagum padamu hari ini. Sering tidak menarik membicarakanmu, tapi apa daya menolak Tuan Guru Cek Mad, siang malam “membatin” mengisahmu.

Tapi pagi ini saya seperti terbangun dalam mimpi, halaman depan dipagi berkah.
“Siapapun pemenang hari ini, itu adalah hasil pilkada, kita harus dukung”,katamu.

Saya hentikan mimpi yang seakan sedang melaju di jalan layang Beureunun-Tangse bersama Cek Mad.
Ini kenyataan, gua demen, Kausar seperti membalikan Beko pakai tangan kiri, padahal beko alat berat dan tidak mungkin terjadi, tapi hari ini seperti itu- ringan dan renyah bagai kerupuk mulieng Ujong Rimba.

Saya sempat salah duga, kalau pagi ini dirimu mengabari kami bila potongan jari sudah terkumpul. Ternyata bukan.

Untuk Aceh lebih baik, Bang Wandi telah kembali, sang Kapten harus kita dukung “menerbangkan pesawat” dengan landasan yang mulus ke tujuan.

Sang Kapten adalah pilot, kita adalah penumpang. Semuanya kita di Aceh adalah penumpang. Bang Nova copilot kita.

Kita mau terbang selamat tentu ikuti petunjuk keselamatan, jangan sampai benci pilot kita buka pintu darurat, yang buka pasti duluan mati.

Akhirnya secara kesatria saya bilang ke Cek Mad,
“Ka kupateh bang, memang barang Keumala lheuh get kulet – hana ulat lom didalam” kata saya.

Jawaban Cek Mad singkat seperti biasa:
“Hai ka kalen keudroelah, kiban U meunan minyeuk”.

Terus saya tanya “Man peu ilei MOVE ON nyan dipeugah le Kausar”.

“Kaiem kah, meunye hana muphom ka jempol-jempol mantenglah, bahasa awak luwa macam dum arti” jawab Cek Mad terlihat berkeringat- mungkin juga sedang mencari arti kata itu.

Ya, Move on-lah’ gitu.
Get That Na Teuh.

#cermindonya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *