Sen. Agu 3rd, 2020

Kisah Bus PMP dan Malaikat Lewat

Sekitar Juli 1995 Presiden Suharto mengunjungi Banda Aceh dalam agenda Muktamar Muhammadiyah ke-43. Jalanan dari Lambaro sampai Kota dipenuhi penyambutan, dominan pelajar sambil mengipas-ngipas kertas layang Bendera Merah Putih.

Mobil BE “PMP” yang saya tumpangi dari Tangse ikut diberhentikan dan menepi di sebuah sekolah sekitar Lambaro.

Kelamaan menunggu membuat se-isi Bus mengeluh, supir kala itu Bang Rieh berupaya mencari tahu ke depan pagar. Saya ikut serta melihat ke depan jalan. Sambil berbincang sesama awak Bus, seorang diantaranya berujar “Peu dipeubuet, kalagei lewat Malaikat,”.

Ujaran itu ternyata didengar seorang anggota polisi dan aparat keamanan lain yang menjaga di depan pagar sekolah tersebut.

Selepas berlalu rombongan Presiden Suharto, kami bergegas naik Bus bersiap melaju ke Terminal Beurawe. Namun sebelum Bang Rieh tekan gas, pasukan keamanan yang dominan TNI itu segera menarik supir dan meminta kami yang laki-laki turun dari Bus.

“Laki-laki turun semua, saya mau pastikan siapa yang tadi berkata Malaikat Lewat,” kata aparat itu berulang kali.

Nah, disitulah mulai “meuramah”๐Ÿ˜€, maka dibarislah kami. Segeralah mendarat pukulan dan tendangan.

Saya yang berdiri paling ujung, berupaya membuat diri seperti masih anak-anak dan terus berdoa agar selamat dari hantaman sepatu laras.

Pukulan dan tendangan “kloter” pertama selamat, giliran kedua saya tidak selamat๐Ÿ˜, sepatu laras jatuh ke bagian tubuh bagian bawah.

Berupaya menahan perih, saya sempat melihat Bang Rieh dan kernet dalam kondisi hampir pingsan, sempat ngobrol kecil. “Awakkah rapoh that babah, ” katanya.

Tidak sampai disitu, Bang Rieh dan awak moto lain diambil foto seperti “tersangka”๐Ÿ˜.

“Meunye troek laporan bak Pak Harto, abeh awakkah beh,” kata seorang anggota Koramil berbahasa Aceh mengancam.

Penyiksaan berakhir namun permainan belum usai. Bang Rieh dan kernet lain “dipaksakan” membeli nasi untuk beberapa aparat yang tadi terlibat “menemani” kami.๐Ÿ˜

Bus tetap ditahan, kami semua berangkat naik Labi-labi ke kota termasuk Bang Rieh. Seorang awak Bus sempat melirik saya sambil bertanya “Na saket dek,?” Saya diam saja karena kesal๐Ÿ˜€.

Herannya saya, awak Bus masih saja sempat bercanda.
“Tapike Malaikat, rupajih dipajoh Bu cit,” kata kernet. Bang Rieh dan kawan-kawan tertawa bareng, sementara saya diam saja menahan perih di tulang “miskin” tibia (tuleung gasin)๐Ÿ˜€

Catatan : kisah nyata ini saya tuliskan kembali dengan pendekatan sense of humor, untuk menghindari kenangan buruk masa lalu dan semoga menjadi pelajaran ke depan.

Gambar cover hanya ilustrasi saja, bukan gambar sebenarnya.

Sumber foto :javanewsonline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *