Jum. Nov 22nd, 2019

Kartu Lebaran Yang Tak Kunjung Datang

Kantor Pos Kuta Alam

Kantor Pos menjadi tempat paling sibuk di pekan-pekan akhir jelang Hari Raya Idul Fitri atau juga Idul Adha. Orang-orang mengirim “salam” melalui kartu, sebagai tanda bertemu -tak bertatap muka dan bercakap kata. Itu dulu ketika tulisan tangan begitu berharga.

Dahulu, Sejak 1995 saya mengenal dan menggunakan kartu lebaran bergambar Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, uniknya lagi di tahun 1999 kartu lebaran beredar gambar baru Mesjid Raya dengan pamplet Referendum didepannya. Kartu lebaran itu laris manis, disukai banyak orang. Kartupun dikirim dengan perangko kilat (kala itu di tahun 1999 bernilai Rp.700), dijamin tiga hari sampai ditujuan. Kalau “kantong lagi bolong”, bisa menggunakan perangko Rp. 300 saja, tetap sampai biarpun memakan waktu seminggu kedepan.

Kartu lebaran di Kantor Pos Kuta Alam Banda Aceh termasuk paling berkelas masa itu. Kartu bermotif banyak pilihan tak sekedar kata-kata ucapan, tapi telah menjadi “oleh-oleh” dari Serambi Mekkah. Berupa gambar dan kata-kata, kartu lebaran benar-benar mewakili sebuah silaturahmi dan promosi wisata.

Kini zaman berganti, era SMS ‘layanan pesan singkat’ yang pertama menghentikan zaman keemasan kartu lebaran, selanjutnya  dilindas BBM dan kemudian hari tanpa ampun digeruduk oleh whatshap, Line dll. Kini kartu lebaran seperti hilang dalam terang, kita yang pernah muda di tahun-tahun 1990-an sampai 2000-an hanya bisa mengingatnya dengan indah.

Kantor Pos Kuta Alam pun telah sepi dari serbuan pengiriman kartu lebaran, tidak ada lagi kartu lebaran yang dulu ramai dijual diserambi depan. Semua telah berganti, era kini cukup broadcast pesan- sekali- mengalir ke ribuan.  Jawaban untuk setiap kiriman pesan-pun cukup singkat (untuk tidak mengatakan pelit) yaitu: “tks”.

Kantor Pos tidak lagi sibuk dengan perangko, wesel pos, telegram atau majalah sahabat pena. Kini di kantor bergambar merpati terbang itu orang antri bukan berkirim surat tapi pembayaran cicilan dan tunggakan kredit.

Kantor Pos telah “mati” dari tujuan awal bersurat menyurat. Jasa layanan paling merakyat ini mulai redup awal tahun 2002, beberapa tahun kemudian dianggap masa-masa paling sulit bagi kantor pos. Kedatangan “Pak SMS”  layanan pesan singkat telah menggantikan peran “Pak Pos”.

Bagai “raksasa besar tak bergigi” Kantor Pos tak berdaya biarpun memiliki hampir 24.000 titik layanan di seluruh Indonesia. Di Aceh nasibnya juga tidak kalah tragis, setelah ditinggalkan oleh peminat korespondensi Kantor Pos seperti tidak terdengar lagi. Kantor Pos yang memiliki perwakilan disetiap kecamatan di Aceh-pun tidak dapat berbuat apa-apa,  konon di tahun 2008 banyak “Pak Pos” yang dirumahkan. Padahal dulu kita mengenal nama-nama “Pak Pos” yang rutin menyambangi rumah-rumah kita. Itulah kisah-kisah akhir “Pak Pos” yang pernah mengantar kartu lebaran dan surat-surat ke rumah kita.

Kita hanya bisa mengingatnya saja dan membagi cerita untuk mereka yang ketika itu (mengutip bahasa Apa Karya) “masih main debu”.

Untuk yang pernah berkirim kartu lebaran dan untuk yang pernah mendapat kartu lebaran-  selamat berhari raya.

Kartu Lebaran
(Google)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *