24 Oktober 2020

Hari-hari Terakhir

Suatu hari di 9 Desember 2004 kami menikah. Diana Maimun demikian nama isteri tercinta, putri dari pasangan orang tua Maimun dan Nurmala. Hari akad bersejarah itu juga dihadiri bapak dan ibunda tercinta saya M Hasan Husin dan Rosmawar.

Akad nikah 9 Desember 2004 dengan wali sendiri Ayahanda Maimun

Selepas akad nikah kami, sebuah acara kecil digelar di kediaman kami Blang Oi. Sebuah pelaminan kecil dipasang dan undangan makan seluruh rombongan linto dan tetangga sekitar. Padahal kami berencana Pesta atau Kenduri dua bulan kedepan. (Mungkin) Tanda-tanda perpisahan dimulai.

Malam hari nya group Seulaweut anak muda dari Gampong Lamteumen tampil memeriahkan hari pernikahan.

Lantunan Seulaweut, diselingi lagu-lagu Aceh mendayu di Lampoh Goeng Lorong satu malam itu. Seakan-akan alunan itu mengirim “pesan” bahwa perpisahan sudah sangat dekat?

Hari terus berjalan, tiba-tiba saja pada hari Sabtu 25 Desember 2004 Ibunda tercinta Diana meminta kami untuk segera bergerak ke Medan agar besoknya minggu dapat melaju via Belawan ke Malaysia. Kami sempat berdiskusi untuk bergerak hari Senin saja, namun demikianlah tanda-tanda perpisahan itu seakan tidak kompromi dengan waktu.

Diantar dengan angkot Labi-labi khas Ulee Lheue bertuliskan Nadia di belakang, sang ayah menjadi supir. Ikut serta beberapa tetangga kaum ibu dan anak-anak Lampoh Goeng. Lagi-lagi “aroma” perpisahan terbaca sekali sejak dalam perjalanan sampai lambaian terakhir sang ibunda di Terminal Seutui.

Singkat cerita, kami berangkat malam 26 Desember 2004 tujuan Malaysia via Medan.

Begitulah hari itu Gempa disusul Tsunami melanda dan melululantakan hampir seluruh bangunan di Gampong Blang Oi. Rumah kami tak tersisa semeter dinding-pun, hanya lantai keramik yang tertinggal.

Sang ayah, ibunda mertua dan seluruh penumpang labi-labi yang mengantar kami tidak pernah ditemukan sampai hari ini, begitu juga bangunan rumah dan persiapan pesta pernikahan kami hilang tak berbekas. Innalilahi wainnailahi rajiun.

Kini 15 tahun sudah. Lorong kecil yang dulu “tak bernyawa” kini telah hidup kembali bersama putra-putri tercinta kami.. Sultan, Kaisar, Azka dan Dek Diva.

Semua musibah selalu saja ada hikmah yang diantar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *