Kam. Sep 19th, 2019

Curhat sang bidadari untuk aktivis yang tak kawin-kawin

Hembusan angin menerpa tubuh perempuan didepan saya, aroma harum ‘meusipreuk’ (merebak), saya berkerja keras menggeser posisi duduk. Bukan apa-apa, karena wewangian perempuan bisa meruntuhkan benteng, apalagi saya.

Dawn Spencer Hurwitz pendiri DSH Perfumes berkata: “Aroma menstimulasi otak yang membuat kamu menarik di mata si pria, dan menjadi daya pikatmu.”  Saya berupaya tidak terpikat, karena saat ini saya sedang ngobrol pandangan perempuan ini (terpikat) pada seorang aktivis Aceh yang belum kawin-kawin.

“Orangnya kadang lucu dan manja-manja bang, dia pernah panggil saya boneka katanya mirip sinyak patong” kata perempuan ini sambil tertawa, saya menunduk menghindari pesona lesum pipi dan deretan  giginya yang putih tersusun rapi. Memang banyak godaan kali ini, saya istigfar berkali-kali dan tetap ingat pesan senior: jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Kenapa pria itu bisa begitu menarik dimatamu?” Saya bertanya kemudian.

Masya Allah, dia melempar senyum, saya tidak lagi menunduk. Semoga saya diampuni, ini senyum 10 terbaik didunia versi saya sendiri asal jangan tanya siapa-siapa saja pemilik senyum itu.

“Banyak hal sih, semua orang baik tapi dia ini sangat baik, kebaikan abang ini kalau ditanya pada 10 orang yang mengenalnya, saya yakin 9 mengatakan sangat baik” tuturnya penuh keyakinan.

Saya mengiyakan dan berharap masuk 9 orang itu. Kami berdua hampir yakin pria ini sangat langka, kebaikannya nyaris paripurna.

Siapa pria ini?

Kami berdua mengenalnya, tapi saya sangat-sangat mengenalnya. Karena perempuan ini tahu saya mengenal baik pria pujaannya itu, makanya kami duduk membicarakannya kali ini.

“Dia tidak tergoda mengumpulkan warisan biarpun punya kesempatan kala itu, integritasnya bagus sekali”  puji perempuan ini.

“Idealnya kalau mau memimpin lagi ya baiknya memimpin saya dulu, halalin saya gitu” harap perempuan ini sambil ketawa mengayun-ayun kepala dan tak sadar memegang tangan saya.
“Eh maaf bang” katanya buru-buru menarik kembali jari jemarinya.  Hampir pingsan saya dibuatnya, untungnya saya masih ingat alamat jalan rumah. Duh dunia.

Kadang-kadang saya berpikir apakah teman saya itu hanya mau menikahi “bidadari” di surga? Ampun ya Allah, semua orang mau termasuk saya, tapi ya teman kita masih di dunia menikahlah segera.

Saya pernah baca buku 10 wanita ahli surga, sebuah hadis menyebutkan setiap Mukmin di surga akan mendapatkan tujuh puluh tiga isteri. Maha suci Ya Allah, semoga kami termasuk diantara hambamu yang ditemani bidadari-bidadari surga, yang bercahaya lebih indah daripada rembulan.

Kembali ke obrolan, sambil ditiup angin dan dedaunan yang jatuh, perempuan ini terus menceritakan keinginannya untuk bisa melengkapi hidup pria aktivis ini.

“Kadang saya curiga apa ada perempuan lain selain saya, pernah saya observasi lapangan seminggu untuk melihat kesehariannya, dia masih sendiri dan itu yang saya harap.” Kata perempuan ini.

“Saya tahu dia suka saya juga, kan perempuan itu sangat peka loh bang dengan situasi, sekali ketemu bisa tahu dia naksir kita atau tidak!” lanjutnya. Nah pernyataan ini buat saya takut,  saya sempat salah tingkah beberapa kali, tapi ya itu, pesan senior lagi: jangan menikung kawan ditikungan. Insya Allah kawan.

“Cobalah bertemu, bertanya atau sekedar ngopi untuk lebih menguatkan chemistry” saran saya.

Chemistry apa, mengaku sibuk terus ada rapat tim, pesan kita dibaca tapi tidak dibalas,” gerutu perempuan ini, terlihat kesal tapi cepat diumbarnya senyuman. Perempuan hebat ini sangat kuat, dan mampu bersabar sekian bulan dan mungkin tahun untuk menunggu lelaki aktivis ini mengatakan ya atau tidak.

“Kalaupun tidak suka, tidak tepat mendampinginya ya kabari dong, kalau diam begini kita jadi berharap terus kan” katanya lagi.

“Oh teman, apa-sih yang kau tunggu, janganlah kuajari ikan berenang, inilah bidadari di hikayat perang sabi yang rajin kau alunkan dulu ” saya ikut menggerutu dalam hati sambil terbawa kenangan ketika pria aktivis ini begitu nyaring suaranya menyanyikan Hikayat Perang Sabi pas di bait berikut:

Budiadari meuriti didong djipandang
Di eu cut abang jak meucang dalam prang sabi
Hoka judo rakan eu syahid dalam prang dan seunang
Dipeurap rijang peutamong syuruga tinggi

Djimat kipaih lah kipaih saboh bak jaroe
Dipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Syahid di sinan-di sinan diba u dalam-u dalam
Dipeuduk sajan ya Allah ateuh kurusi

Andai bidadari itu turun ke dunia, bau harumnya tersebar dari barat ke timur. Setiap pandangan kita akan tertuju kepada mereka sehingga mengabaikan yang lainnya. Mahkota di kepala bidadari itu lebih agung dari mahkota raja dan ratu hebat di dunia.

Saya diajari seorang guru bahwa bidadari itu diberikan untuk orang yang bersegera menikah dan beramal penuh ketaatan. “Perbanyak tahlil (la ilaha illallah), takbir (Allahu Akbar), dan tasbih (subhanallah), engkau akan bersamanya di surga kelak” kata guru yang terakhir kali saya bertemu sedang dengan isteri mudanya.

Bersegeralah menikah, itulah sebaik-baik pria yang sudah mampu. Isterimu adalah bidadarimu.

Alunan kalam mengalun dari mesjid-mesjid sekitar, sesaat kemudian perempuan ini melihat jam dilengan kirinya.

“Sudah dulu bang obrolan kita sore ini, terima kasih sudah mau mendengar, saya juga tidak berharap abang menyampaikan itu padanya, biarlah waktu akan menjelaskan semua itu” tuturnya penuh hikmah.

“Saya mau shalat jamaah di mesjid raya bang, sesibuk apapun saya ikhtiar mengerjakan shalat tepat waktu, hanya rumah Allah tempat dimana ketenangan hati itu ada bang” katanya kemudian.

Duhai dunia engkaulah yang layak mengabari pesan itu pada pria aktivis yang tak kawin-kawin, bahwa seorang perempuan ‘bidadari dunia’ masih setia menunggunya.

non-fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *