Sel. Feb 25th, 2020

Beras dan Sultan Apoh-apah

Kemunduran Aceh biasanya dimulai ketika beras harus diimpor dan harganya selangit. Hal ini digambarkan oleh Beaulieu ketika menginjak kaki di Aceh tahun 1620-1621.  Maka tidak berlebihan ketika ada satu hadih maja yang berbunyi “Pruet Ruhung Boh Meugantung, Karu Ureung Saboh Donya,”.

Pergolakan karena kelaparan pernah menghantui Aceh dalam beberapa dekade.

**

Ketika petani lelaki mulai enggan ke sawah dan menganggap pekerjaan ini adalah ranah kaum ibu-ibu (sejak Seumula sampe Keumeukoh).

**

Abad 16 dan setelah itu, Sultan apoh-apah memikirkan ketersediaan beras.

Sultan Aceh selain harus memenangkan perang, juga dibingungkan bagaimana memenuhi beras untuk penduduk. Beras yang didatangkan dari Pedir (lumbung Aceh) dan Daya (Aceh Jaya) tidak memadai, maka diadakan pengiriman lewat laut yang datangnya dari Semenanjung (Dennys Lombard: 95).

Padi menguning di Gampong Pulo Masjid 1 Tangse
(Foto Ian Pumesta)

Kaum lelaki sangat malas ke sawah. Beaulieu, Laksamana Perancis yang tinggal hampir setahun di Banda Aceh mencatat bagaimana orang-orang itu disebutnya sedemikian angkuhnya hingga tidak mau memegang bajak.

Maka mereka tidak mau memikirkannya sama sekali. Malahan tulis Laksamana Perancis yang mendapat keistimewaan dari Sultan Iskandar Muda ini, hanya untuk menanam padi harus didatangkan pekerja dari India.

Semua penjelajah Eropa yang pernah singgah di Banda Aceh menegaskan bahwa beras jarang ada dan mahal. Lancaster sudah berkata pada tahun 1602: “Rice brought from other places, it is a good marchandise and is sold by the six or seven bambues for nine pence”.

Jadi orang Aceh selalu bergantung pada luar dan para sultan selalu memikirkan dua hal yaitu supaya di satu pihak pengiriman beras yang dihasilkan di bawah kolong langit asing tetap mengalir ke kota, dan di pihak lain ada budak untuk menanam padi di daerah sekitar-nya. Lombard menulis, pentingnya kedua keharusan itu tak bisa tidak harus digarisbawahi karena menentukan seluruh politik kota itu ke luar. Sesaat saja perhatian terhadap hal itu mengendur, maka membubunglah harga, bahkan bisa timbul kelaparan.

Dalam Bustan us-Salatin disebut adanya kemarau dan kelaparan yang merupakan bencana besar semasa ‘Ali Riayat Syah (sekitar 1605) dan Iskandar Muda dianggap berhasil memberi kepada setiap orang kemungkinan untuk makan sampai kenyang.

Jadi menjadi pemimpin di Aceh, selain investasi jangan lupa memastikan air mengalir ke sawah agar padi tumbuh subur. Ketika panen padi melimpah dengan beras berkualitas, sesungguhnya pemimpin telah memberi arti bagi kebahagian banyak orang di tanah para aulia.

Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe.

*apoh-apah (dengan susahnya)

2 thoughts on “Beras dan Sultan Apoh-apah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *