27 September 2020

Bambu Patah, Leher Putus

Begitulah suatu hari Banda Aceh di tahun 1620, seorang utusan Aceh yang pernah dikirim ke Belanda mengalami nasib sial. Pasalnya sang utusan lupa kebiasaan di negerinya.

Peradaban Aceh kala itu sangat tinggi kemajuannya. Aturan sangat ketat berlaku di Kutaradja. Ranting pohon pun tidak boleh dipatahkan, apalagi menebang pohon.

Kisah ini terdapat dalam Buku Kerajaan Aceh Darusalam karangan Dennys Lombard, yang menulis catatan perjalanan Laksamana Perancis Beaulieu selama setahun di Aceh.

Sang utusan mematahkan sebuah batang dari bambu, pelanggaran keras atas aturan lingkungan hidup kerajaan. Akhirnya Sultan memerintahkan untuk menggorok leher sang utusan tersebut.

Bambu (intisari online)

Padahal telah diumumkan oleh Sultan Iskandar Muda, “Barang siapa berani memangkas sebagian dari dalam atau dari luar benteng Istana akan dihukum mati,”.

Sang utusan termasuk dalam rombongan delegasi Aceh yang dikirim Sultan sebelum Iskandar Muda berkuasa ke Belanda pada tahun 1601 dan kembali ke Aceh setahun kemudian.

Sultan Alauddin Riayat Syah (1589 – 1604) mengirim tiga utusan dari Aceh ke Belanda, yaitu Tuanku Abdul Zamat (Abdul Hamid), Laksamana Raja Seri Mohmat (Sri Muhammad), dan seorang kemenakan sultan Meras San (Mir Hasan). (Historia)

Peta Belanda tempo dulu (Bangka Pos)

Siapa nama utusan tersebut, apakah Laksamana atau Mir Hasan? Masih penuh dengan misteri. Sementara Duta Besar utama Tuanku Abdul Hamid disebut-sebut tidak sempat kembali karena meninggal dunia di Belanda.

Kisah menarik ini menjadi pelajaran berharga untuk kita generasi Aceh, bahwa dulu kemajuan peradaban kota melampaui Eropa.

Kesadaran warga sangat tinggi mencintai lingkungan hidup, tidak hanya pohon, burungpun tidak boleh ditangkap dalam kota.

Hukuman atas pelanggaran tidak main-main dan tidak pandang bulu. Sang utusan yang notabene adalah diplomat petinggi kerajaan tetap saja dihukum. Sebatang pohon bambu bernilai tinggi, sampai-sampai karenanya seorang petinggi bisa dieksekusi mati.

Ilustrasi Sultan Iskandar Muda

Sumber foto : steemkr / google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *